Langkat,Jejak-kasusnews.web.id – Dunia pers di Sumatera Utara kembali tercoreng. Kebebasan pers diduga kembali mendapat ancaman serius setelah SP, salah satu pimpinan media online di Sumut, diduga menjadi korban penculikan, intimidasi, dan tekanan psikologis oleh oknum yang diduga melibatkan anggota TNI, Selasa (12/5/2026) malam.
Peristiwa yang menimpa SP diduga kuat berkaitan erat dengan terbitnya laporan investigasi media yang dipimpinnya terkait dugaan praktik ilegal kondensat serta aktivitas perjudian meja tembak ikan di wilayah Kabupaten Langkat.
Kasus ini memunculkan kekhawatiran besar di kalangan insan pers, sebab tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk pembungkaman terhadap kerja jurnalistik yang sah dan dilindungi undang-undang.
Modus Penjebakan Berkedok Informasi Narkoba
Berdasarkan pengakuan korban, aksi dugaan penculikan itu bermula dari sebuah skenario yang diduga telah dirancang secara sistematis.
SP mengaku dihubungi seorang oknum wartawan berinisial FK yang mengajaknya bertemu di salah satu kafe di Kota Medan. Dalam komunikasi tersebut, FK berdalih hendak memberikan informasi penting terkait dugaan peredaran narkoba di wilayah Binjai.
Tanpa menaruh curiga, SP memenuhi ajakan tersebut demi kepentingan peliputan.
Namun setibanya di lokasi, situasi berubah mencekam.
Alih-alih mendapat informasi sebagaimana dijanjikan, SP justru didatangi dua pria tak dikenal yang langsung memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil.
“Begitu saya sampai, tiba-tiba dua orang datang dan memaksa saya masuk ke mobil. Mereka bilang saya harus memberikan klarifikasi atas berita yang saya tulis,” ungkap SP dengan kondisi trauma.
Dipaksa Buat Video Bantahan di Bawah Ancaman
Di dalam mobil, tekanan terhadap korban semakin intens.
SP mengaku melihat seorang pria mengenakan seragam loreng yang diduga merupakan oknum anggota TNI. Dalam kondisi tertekan, ia dipaksa merekam video klarifikasi yang berisi bantahan terhadap pemberitaan investigasi medianya terkait dugaan bisnis ilegal kondensat dan perjudian tembak ikan di Langkat.
Korban menegaskan, video tersebut dibuat bukan atas kehendaknya sendiri, melainkan akibat tekanan dan ancaman yang ia terima.
“Saya dipaksa mengatakan berita itu tidak benar. Saya tidak punya pilihan karena berada di bawah tekanan,” tegasnya.
Tidak hanya itu, para terduga pelaku juga diduga berupaya menutup jejak aksinya dengan memerintahkan korban untuk berbohong kepada keluarga maupun rekan seprofesi jika keberadaannya dipertanyakan.
“Mereka bilang kalau ada yang tanya, jawab saja saya sedang menghadiri acara ulang tahun atau surprise,” ujar SP.
Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi kebebasan pers di Sumatera Utara. Jika benar melibatkan aparat, maka tindakan tersebut bukan sekadar intimidasi biasa, melainkan bentuk nyata teror terhadap kerja jurnalistik dan upaya sistematis membungkam kontrol sosial yang dijalankan media.
Insiden ini mendesak perhatian serius dari aparat penegak hukum, institusi TNI, Dewan Pers, serta organisasi jurnalis untuk mengusut tuntas dugaan penculikan dan intimidasi tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait atas dugaan keterlibatan oknum anggota TNI dalam peristiwa tersebut. Namun desakan agar kasus ini diusut transparan terus menguat dari berbagai kalangan. (Tejo)












