News  

Wak Abas, Raja Gasing Batam yang Bertarung Sendiri dengan Kesunyian

Batam,Jejak-kasusnews.web.id – Di Belakang Padang, pulau kecil yang dulu riuh oleh dentuman gasing, kini hanya terdengar angin. Arena gasing yang dulu mengundang tepuk tangan dan tawa kini sunyi, ditumbuhi rumput. Seakan semua cerita pernah ada, lalu hilang begitu saja.
Di tengah kesunyian itu, ada satu orang yang belum menyerah: Muhammad Abas, atau yang biasa dipanggil Wak Abas.

Ia bukan pejabat, bukan tokoh terkenal. Ia hanyalah lelaki kampung yang hidup sebagai pencari pasir, kuli, dan nelayan. Tapi di dadanya ada sesuatu yang jauh lebih besar dari keadaan ekonominya , cinta yang tidak pernah padam pada gasing, warisan budaya Belakang Padang. Dulu, di Kampung Sekanak, ada lelaki bernama Jumain. Dunia gasing ASEAN mengenalnya sebagai Presiden Gasing. Malaysia mengakui, komunitas ASEAN mengakui, Belakang Padang bangga.
Anak-anak menari dengan tali gasing di tangan. Orang tua bersorak mendukung. Wisatawan datang hanya untuk menyaksikan putaran gasing Belakang Padang yang terkenal kuat dan gagah.
Namun ketika Jumain meninggal, seolah gasing ikut dikuburkan bersamanya.
Arena yang dulu menjadi kebanggaan kini sunyi. Dan satu per satu, orang berhenti mengingat.
Kecuali satu orang: Wak Abas.
Ketika berbicara tentang gasing, suara Wak Abas bergetar.
“Bicara gasing Belakang Padang hari ini… saya sedih. Sedih yang menangis tapi tak berair mata.”
Kalimat itu diucapkan perlahan, tapi terasa tajam.
Bukan karena ia kehilangan sesuatu, tapi karena ia masih mempertahankan sesuatu yang orang lain sudah lama melepaskan.
Ia berkeliling ke luar kota membawa gasing—Bekasi, Jakarta, Karimun—dengan ongkos sendiri.
Bukan untuk mendapat uang, bukan untuk kejuaraan.
Hanya untuk memastikan satu pesan sederhana:
“Belakang Padang masih punya gasing.”
Namun sering ia diejek teman sesama pemain dari daerah lain:
“Belakang Padang masih punya gasing.”
Namun sering ia diejek teman sesama pemain dari daerah lain:
“Batam ada monumen gasing, tapi turnamen pun tak pernah ada.”
Ia hanya diam. Tapi hatinya tercabik.

Izazat karunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *