Kenapa Harus Orang Luar, Kalau Putra Daerah Sendiri Tak Pernah Diberi Kesempatan?”

SUMEDANG,Jejakkasusnews.web.id — Ada pertanyaan yang mungkin terasa pahit, tetapi layak kita diskusikan secara terbuka:

Apakah Sumedang sedang mengalami krisis tokoh muda? Atau justru masyarakatnya yang mulai kehilangan kepercayaan kepada putra daerah sendiri?

Sumedang memiliki banyak anak muda berpendidikan, berpengalaman, aktif di berbagai bidang, dan memiliki gagasan untuk membangun daerah.

Tetapi ketika panggung kepemimpinan dibuka, mengapa nama-nama dari luar daerah justru kerap dianggap lebih layak?

Apakah karena mereka memang lebih kompeten?
Atau jangan-jangan karena kita terlalu mudah terpesona oleh popularitas, modal politik, jaringan kekuasaan, dan kepentingan jangka pendek?

Inilah yang perlu kita renungkan.
Pragmatisme dalam politik tidak selalu berbentuk transaksi uang. Kadang ia hadir dalam bentuk “siapa yang paling dekat”, “siapa yang paling populer”, “siapa yang paling menguntungkan”, atau “siapa yang paling kuat kendaraannya”.
Jika cara berpikir seperti ini terus dipelihara, jangan heran jika banyak anak muda Sumedang memilih diam.

Bukan karena mereka tidak mampu.
Tetapi karena mereka merasa tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk membuktikan kemampuan.

Padahal pemimpin tidak seharusnya dinilai dari asal daerah semata.
Orang luar tidak otomatis buruk. Putra daerah juga tidak otomatis baik.
Ukuran utamanya harus jelas:

INTEGRITAS. KAPASITAS. REKAM JEJAK. GAGASAN. DAN KEBERPIHAKAN KEPADA RAKYAT.

Namun, kalau putra daerah sendiri tidak pernah diberi kesempatan, kapan regenerasi kepemimpinan akan terjadi?

Jangan sampai suatu hari kita bertanya:
“Ke mana tokoh muda Sumedang?”

Padahal selama ini mereka ada di sekitar kita—hanya saja tidak pernah benar-benar kita dorong ke depan.

Maka sudah waktunya masyarakat Sumedang melakukan evaluasi.

Bukan untuk memusuhi orang luar.

Bukan pula untuk mengultuskan putra daerah.

Tetapi untuk memastikan bahwa anak-anak muda Sumedang memiliki panggung yang sama untuk bertarung secara sehat berdasarkan kapasitas dan gagasan.

Karena daerah yang besar bukan hanya daerah yang punya banyak pembangunan.

Daerah yang besar adalah daerah yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru dari generasinya sendiri.

Dan pertanyaan terakhirnya mungkin justru harus kita tujukan kepada diri sendiri:

“Saat memilih pemimpin, apakah kita sedang memilih masa depan Sumedang… atau hanya sedang memperjuangkan kepentingan kita masing-masing?”

Sumedang punya banyak potensi. Yang kita butuhkan sekarang bukan sekadar tokoh baru, tetapi keberanian untuk memberi kesempatan kepada generasi baru.

Saatnya Sumedang percaya diri.

(Forum media🔥 SUMEDANG KEHILANGAN KEPERCAYAAN DIRI MEMILIH PEMIMPIN?

“Kenapa Harus Orang Luar, Kalau Putra Daerah Sendiri Tak Pernah Diberi Kesempatan?”

SUMEDANG — Ada pertanyaan yang mungkin terasa pahit, tetapi layak kita diskusikan secara terbuka:

Apakah Sumedang sedang mengalami krisis tokoh muda? Atau justru masyarakatnya yang mulai kehilangan kepercayaan kepada putra daerah sendiri?

Sumedang memiliki banyak anak muda berpendidikan, berpengalaman, aktif di berbagai bidang, dan memiliki gagasan untuk membangun daerah.

Tetapi ketika panggung kepemimpinan dibuka, mengapa nama-nama dari luar daerah justru kerap dianggap lebih layak?

Apakah karena mereka memang lebih kompeten?
Atau jangan-jangan karena kita terlalu mudah terpesona oleh popularitas, modal politik, jaringan kekuasaan, dan kepentingan jangka pendek?

Inilah yang perlu kita renungkan.
Pragmatisme dalam politik tidak selalu berbentuk transaksi uang. Kadang ia hadir dalam bentuk “siapa yang paling dekat”, “siapa yang paling populer”, “siapa yang paling menguntungkan”, atau “siapa yang paling kuat kendaraannya”.
Jika cara berpikir seperti ini terus dipelihara, jangan heran jika banyak anak muda Sumedang memilih diam.

Bukan karena mereka tidak mampu.
Tetapi karena mereka merasa tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk membuktikan kemampuan.

Padahal pemimpin tidak seharusnya dinilai dari asal daerah semata.
Orang luar tidak otomatis buruk. Putra daerah juga tidak otomatis baik.
Ukuran utamanya harus jelas:

INTEGRITAS. KAPASITAS. REKAM JEJAK. GAGASAN. DAN KEBERPIHAKAN KEPADA RAKYAT.

Namun, kalau putra daerah sendiri tidak pernah diberi kesempatan, kapan regenerasi kepemimpinan akan terjadi?

Jangan sampai suatu hari kita bertanya:
“Ke mana tokoh muda Sumedang?”

Padahal selama ini mereka ada di sekitar kita—hanya saja tidak pernah benar-benar kita dorong ke depan.

Maka sudah waktunya masyarakat Sumedang melakukan evaluasi.

Bukan untuk memusuhi orang luar.

Bukan pula untuk mengultuskan putra daerah.

Tetapi untuk memastikan bahwa anak-anak muda Sumedang memiliki panggung yang sama untuk bertarung secara sehat berdasarkan kapasitas dan gagasan.

Karena daerah yang besar bukan hanya daerah yang punya banyak pembangunan.

Daerah yang besar adalah daerah yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru dari generasinya sendiri.

Dan pertanyaan terakhirnya mungkin justru harus kita tujukan kepada diri sendiri:

“Saat memilih pemimpin, apakah kita sedang memilih masa depan Sumedang… atau hanya sedang memperjuangkan kepentingan kita masing-masing?”

Sumedang punya banyak potensi. Yang kita butuhkan sekarang bukan sekadar tokoh baru, tetapi keberanian untuk memberi kesempatan kepada generasi baru.

Saatnya Sumedang percaya diri.

(Forum media sumedang timur)

 

Nurrakhman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *