SAMPIT,Jejak-kasusnews.web.id – Memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh setiap tanggal 3 Mei, tantangan dunia jurnalistik kini tidak lagi sekadar soal pembungkaman informasi, melainkan juga tentang ketahanan ekonomi di tengah disrupsi digital.
Hal ini menjadi sorotan penting bagi insan pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosialnya.
Bony A, seorang praktisi pers muda, menyampaikan bahwa kebebasan pers di era digital ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi, teknologi memudahkan penyebaran informasi secara cepat (real-time).
Di sisi lain, ekosistem digital memaksa media untuk terus beradaptasi dengan algoritma yang sering kali mengabaikan kedalaman kualitas berita demi mengejar jumlah tayangan (views).
> “Kebebasan pers saat ini bukan hanya soal berani bicara, tapi bagaimana tetap tegak berdiri di tengah himpitan ekonomi media. Tantangan nyata bagi wartawan muda adalah menjaga integritas liputan saat biaya operasional di lapangan tidak sebanding dengan pendapatan dari platform digital,” ujar Bony dalam keterangannya, Minggu (3/5).
**Dilema Ekonomi dan Integritas**
Bony menekankan bahwa di balik liputan-liputan investigasi atau berita kritis, terdapat risiko finansial yang nyata.
Banyak media lokal yang berjuang mandiri tanpa sokongan modal besar, sehingga kemandirian ekonomi menjadi fondasi utama agar pers tidak mudah “disetir” oleh kepentingan pihak tertentu.
Menurutnya, tanpa kesejahteraan yang layak bagi jurnalis, kebebasan pers akan sulit dicapai secara substansial.
“Pers adalah pilar keempat demokrasi. Namun, pilar ini bisa rapuh jika jurnalisnya masih dipusingkan oleh urusan dapur saat hendak menurunkan berita yang bersifat kritis,” tambahnya.
**Harapan untuk Pers Nasional**
Menghadapi tantangan tersebut, Bony mengajak seluruh insan pers, khususnya generasi muda, untuk tetap memegang teguh Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Ia berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menciptakan ekosistem industri media yang lebih sehat dan adil, terutama bagi media-media di daerah.
“Kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Digitalisasi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat transparansi, bukan justru membuat kita terjebak dalam jurnalisme umpan klik (clickbait) yang dangkal.
Hari Kebebasan Pers ini harus menjadi momentum refleksi untuk memperkuat solidaritas sesama pekerja media,” pungkasnya.
Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun ini diharapkan menjadi pengingat bagi publik bahwa informasi yang akurat dan berimbang adalah hak warga negara yang harus diperjuangkan oleh pers yang berdaulat dan sejahtera. (Tim/Red)












