News  

Jangan Biarkan Ada Air Mata di Balik Takbir

Www.Jejak-kasusnews.web.id – Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Saudaraku yang dirahmati Allah…Malam Iduladha selalu terdengar indah.

Takbir mengguncang langit.

Masjid-masjid bercahaya.

Orang-orang tersenyum menyambut hari raya.

Tetapi pernahkah kita berpikir…

di saat kita tidur dengan rasa tenang,

ada orang yang malam itu menahan lapar?

Di saat kita sibuk menyiapkan makanan,

ada ibu yang duduk termenung memikirkan bagaimana memberi makan anaknya esok pagi?

Di saat kita menunggu daging kurban dibagikan,

ada anak kecil miskin yang hanya mampu memandang dari kejauhan…

dengan mata penuh harapan…

dan perut yang sejak kemarin belum terisi dengan layak.

Saudaraku…

Iduladha bukan sekadar perayaan.

Iduladha adalah ujian:

apakah hati kita masih hidup…

atau sudah mati oleh cinta dunia?

Karena terlalu banyak manusia yang mulutnya lantang bertakbir…

tetapi hatinya tidak pernah bergetar melihat penderitaan orang lain.

Terlalu banyak orang mampu membeli apa saja untuk dirinya…

tetapi berat mengeluarkan sedikit hartanya untuk orang miskin.

Padahal bisa jadi…

di sekitar rumah kita…

ada tetangga yang diam-diam menangis setiap malam.

Ada ayah yang merasa gagal karena tidak mampu membelikan makanan untuk anaknya.

Ada ibu yang menahan lapar agar anaknya bisa makan lebih dulu.

Ada lansia yang hidup sendirian tanpa ada yang peduli.

Ada yatim yang melihat kebahagiaan orang lain sambil menutupi kesedihannya sendiri.

Dan mungkin…

kita melewati mereka setiap hari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

> “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”

> (QS. Al-Insan: 8)

Lihatlah…

Allah tidak hanya memerintahkan ibadah.

Allah memerintahkan kepedulian.

Karena ibadah tanpa kasih sayang hanyalah gerakan kosong.

Apa arti sujud kita…

jika kita tidak peduli kepada orang yang kelaparan?

Apa arti takbir kita…

jika kita masih membiarkan saudara kita hidup dalam penderitaan?

Apa arti kurban kita…

jika hati kita masih keras?

Allah berfirman:

> “Daging dan darah kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”

> (QS. Al-Hajj: 37)

Saudaraku…

Allah tidak melihat seberapa mahal hewan kurban kita.

Allah melihat:

apakah ada air mata orang miskin yang kita hapus?

apakah ada hati yang kita bahagiakan?

apakah ada lapar yang kita kenyangkan?

Karena bisa jadi…

seekor kambing yang sederhana tetapi penuh keikhlasan…

lebih dicintai Allah daripada kurban besar yang dipenuhi riya dan kesombongan.

Hari raya ini…

coba lihat sekeliling kita.

Masih banyak orang yang hidupnya sedang runtuh.

Masih banyak orang yang pura-pura kuat.

Masih banyak orang yang tertawa di depan manusia…

tetapi menangis ketika malam tiba.

Dan mungkin mereka hanya butuh satu hal:

ada seseorang yang peduli.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Tidak termasuk golongan kami orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”

> (HR. Thabrani)

Hadis ini seperti petir bagi hati kita.

Bagaimana mungkin kita menikmati hidangan mewah…

sementara tetangga kita menahan lapar?

Bagaimana mungkin rumah kita penuh daging…

sementara ada anak yatim yang hanya bisa mencium aromanya?

Saudaraku…

Iduladha sejatinya bukan tentang menyembelih hewan.

Tetapi menyembelih sifat kebinatangan dalam diri kita ego yang terlalu besar,

kesombongan, kerakusan, dan hati yang tidak peduli kepada sesama.

Kalau hari raya ini kita masih cuek terhadap penderitaan orang lain…

mungkin yang perlu disembelih pertama kali adalah hati kita yang telah membatu.

Maka pulanglah dari Iduladha dengan jiwa yang berbeda.

Jadilah manusia yang lebih lembut.

Lebih mudah menangis melihat penderitaan sesama.

Lebih ringan membantu walau sedikit.

Lebih ikhlas berbagi walau kita sendiri terbatas.

Karena kelak…

yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah bukan banyaknya harta…

tetapi banyaknya hati yang pernah kita bahagiakan.

Semoga takbir yang kita kumandangkan malam ini bukan hanya suara di bibir…

tetapi menjadi cahaya yang menghidupkan kepedulian dalam hati kita.

Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *