GARUT,Jejak-kasusnews.web.id – Para petani padi di kawasan pesisir selatan Kabupaten Garut menghadapi tantangan berat pada musim kemarau tahun ini. Salah satunya terjadi di wilayah Desa Karangsari, Kecamatan Pakenjeng, yang letaknya berdekatan dengan Laut Selatan. Tanaman padi yang ditanam di area pesisir berisiko mengalami gagal panen apabila tidak dilindungi dari terpaan angin laut yang membawa partikel garam.
Pada praktiknya, lahan pertanian pesisir seharusnya memiliki pagar alami berupa deretan pohon atau semak pelindung yang berfungsi sebagai penahan angin. Namun karena minimnya vegetasi pelindung di sejumlah lahan, para petani terpaksa mencari alternatif dengan memasang pagar dari daun pelapah sawit maupun jaring planet sebagai pemecah angin. Kamis (25/6/2026).
Langkah tersebut dinilai cukup efektif untuk menahan partikel garam dan embun laut yang terbawa angin. Jika dibiarkan mengenai tanaman secara langsung, kandungan garam dapat menyebabkan kekeringan fisiologis, yaitu kondisi ketika tanaman kesulitan menyerap air akibat tingginya kadar garam di lingkungan sekitar. Dampaknya, daun padi dapat mengering, terbakar, hingga menyebabkan kematian tanaman.
Sejumlah petani mengaku penggunaan jaring planet menjadi solusi paling cepat dan praktis untuk melindungi tanaman mereka. Meski demikian, pemasangan pagar pelindung tersebut membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
“Kalau menanam padi di musim kemarau dekat pantai, modal yang dikeluarkan bisa dua kali lipat dibanding musim biasa. Selain biaya benih dan pupuk, kami juga harus membeli jaring atau membuat pagar pelindung agar tanaman tidak rusak terkena angin laut,” ungkap salah seorang petani setempat.
Para ahli pertanian menyebutkan bahwa budidaya padi di lahan pesisir memang memerlukan strategi khusus. Selain penggunaan pagar penahan angin, petani disarankan menanam vegetasi tahan garam seperti pandan, cemara laut, atau bambu sebagai pelindung permanen yang mampu mengurangi kecepatan angin laut dan mencegah kabut garam merusak tanaman.
Pengelolaan air irigasi juga menjadi faktor penting. Petani harus memastikan sumber air yang digunakan tidak terkontaminasi intrusi air laut. Pada musim kemarau, pengairan perlu diatur secara optimal agar kelembapan tanah tetap terjaga tanpa meningkatkan tingkat salinitas lahan.
Selain itu, penggunaan varietas benih padi yang memiliki toleransi terhadap kadar garam ringan hingga sedang menjadi pilihan yang sangat dianjurkan. Pemupukan yang tepat juga diperlukan untuk memperkuat batang dan sistem perakaran tanaman sehingga mampu bertahan terhadap tekanan angin pesisir yang cukup kencang.
Dengan penerapan berbagai strategi tersebut, para petani pesisir berharap hasil panen tetap dapat dipertahankan meskipun menghadapi tantangan lingkungan yang lebih berat dibandingkan lahan pertanian di daerah daratan. Keberhasilan budidaya padi di kawasan pesisir tidak hanya menjaga ketahanan pangan lokal, tetapi juga menjadi bukti bahwa lahan dekat pantai tetap memiliki potensi produktif apabila dikelola dengan teknik yang tepat.
Hendra












