Proyek P3A Pasirjengjing Garut Diduga Bermasalah, Belum Sebulan Sudah Retak, Pihak Terkait Diminta Turun Tangan

GARUT,Jejakkasusnews.web.id — Proyek pembangunan yang diduga merupakan kegiatan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3A) di Kampung Pasirjengjing, Desa Simpangsari, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, menjadi sorotan. Pasalnya, berdasarkan kondisi di lapangan, pekerjaan yang belum genap satu bulan tersebut disebut sudah mulai mengalami keretakan.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait kualitas pekerjaan dan kesesuaian pelaksanaan proyek dengan spesifikasi teknis yang seharusnya.

Informasi yang beredar di lapangan juga menyebut adanya dugaan pemotongan anggaran oleh pihak pengusung sebesar Rp80 juta, dari total anggaran yang disebut mencapai Rp190 juta.

Namun, informasi mengenai dugaan pemotongan tersebut hingga kini belum dapat dipastikan kebenarannya. Jika benar terjadi, tentu hal tersebut perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan dari pihak berwenang karena berpotensi memengaruhi kualitas pekerjaan serta penggunaan anggaran.

Ironisnya, kondisi fisik pekerjaan justru menjadi pertanyaan. Belum lama selesai dikerjakan, sejumlah bagian bangunan dilaporkan sudah menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Publik pun wajar mempertanyakan: apakah pekerjaan tersebut benar-benar dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu yang telah ditetapkan?

Saat dikonfirmasi pada Kamis, 3 September 2026, Ketua Kelompok P3A, Mas Karno, melalui sambungan telepon WhatsApp, mengakui bahwa dirinya mengetahui persoalan tersebut.

Menurut Karno, pekerjaan tersebut masih berada dalam tahap pemeliharaan.

«“Saya juga tahu tentang masalahnya karena ini masih ada pemeliharaan,” ujar Karno.»

Ia menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut dikerjakan oleh orang setempat. Menurutnya, pihaknya tidak dapat mengerjakan langsung pekerjaan tersebut karena adanya ketentuan tertentu.

«“Yang mengerjakannya juga orang setempat, karena kalau dikerjakan oleh tim saya kan tidak boleh,” katanya.»

Terkait material yang digunakan, Karno membantah adanya kekurangan bahan. Ia menyampaikan bahwa material yang digunakan justru cukup melimpah.

«“Kalau terkait bahan material sangat meluap dan tidak kekurangan,” ungkapnya.»

Ketika pembicaraan diarahkan lebih lanjut mengenai persoalan tersebut, Karno memilih mengajak untuk bertemu secara langsung.

«“Gini aja, kita saling paham aja, nanti kita ketemu,” pungkasnya.»

Munculnya keretakan pada pekerjaan yang relatif baru semestinya tidak dianggap sebagai persoalan sepele. Terlebih, terdapat informasi mengenai dugaan ketidaksesuaian spesifikasi dan dugaan pemotongan anggaran yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah.

Untuk memastikan persoalan tersebut, diperlukan pemeriksaan secara terbuka terhadap volume pekerjaan, spesifikasi teknis, kualitas material, metode pelaksanaan, nilai anggaran, serta mekanisme pencairan dan penggunaan dana.

Jika memang pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi dan standar teknis, pihak pelaksana tentu memiliki kesempatan untuk menunjukkan bukti dan menjelaskan penyebab keretakan secara objektif.

Sebaliknya, apabila ditemukan adanya pengurangan volume, material yang tidak sesuai, atau persoalan lain dalam penggunaan anggaran, maka pihak terkait harus memberikan pertanggungjawaban sesuai ketentuan yang berlaku.

Jangan sampai uang negara yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur irigasi masyarakat justru habis di tengah jalan, sementara hasil pembangunan baru seumur jagung sudah menunjukkan kerusakan.

Kini masyarakat menunggu kejelasan: apakah keretakan tersebut murni persoalan teknis yang masih dapat diperbaiki dalam masa pemeliharaan, atau ada persoalan lain di balik kualitas pekerjaan tersebut?

 

Red..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *