Www.Jejak-kasusnews.web.id – Takbir menggema di langit, masjid-masjid dipenuhi suara pujian kepada Allah. Tetapi di balik gema itu, ada suara-suara lirih yang sering tidak kita dengar. Ada tangisan yang ditahan dalam gelap rumah-rumah sempit. Ada perut-perut yang menahan lapar sambil berharap esok ada sedikit kebahagiaan yang datang mengetuk pintu mereka.
Di saat sebagian orang sibuk memilih sapi terbaik dan memotret hewan kurban, ada seorang ibu yang duduk termenung di sudut dapurnya yang kosong. Ia membuka tutup panci berkali-kali walau tahu tidak ada apa-apa di dalamnya. Anak-anaknya bertanya dengan polos,
“Ibu… besok kita makan daging juga?”
Dan sang ibu hanya tersenyum sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
Ada ayah yang berpura-pura kuat di depan keluarganya, padahal diam-diam ia malu karena belum mampu membawa kebahagiaan untuk anak-anaknya di hari raya. Ada anak yatim yang memandangi keramaian pembagian kurban dari kejauhan, berharap namanya dipanggil, berharap ada yang mengingat bahwa ia juga manusia yang ingin merasakan hangatnya perhatian.
Lalu di manakah hati kita saat itu?
Allah SWT berfirman:
> “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
> (QS. Al-Hajj: 37)
Maka sesungguhnya Allah tidak sedang melihat seberapa besar hewan yang kita sembelih. Allah sedang melihat: apakah setelah berkurban hati kita menjadi lebih hidup atau justru tetap keras? Apakah tangan kita benar-benar hadir untuk menolong manusia lain, atau hanya ingin dipuji sebagai orang dermawan?
Karena kurban sejati bukan tentang darah yang mengalir di tanah…
tetapi tentang ego yang mati di dalam hati.
Iduladha adalah pelajaran tentang kemanusiaan. Nabi Ibrahim AS rela menyerahkan yang paling dicintainya demi Allah. Dan hari ini, Allah bertanya kepada kita:
“Apa yang sudah engkau korbankan untuk menolong sesamamu?”
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kekurangan hidup sendiri sampai lupa ada orang lain yang bahkan tidak tahu harus makan apa malam ini. Kita mengeluh tentang lelahnya pekerjaan, sementara ada orang yang berhari-hari mencari kerja tetapi tidak diterima. Kita menangis karena keinginan kita belum terpenuhi, sementara di luar sana ada keluarga yang hanya berdoa agar bisa bertahan hidup sampai besok pagi.
Rasulullah SAW bersabda:
> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
> (HR. Ahmad)
Bayangkan… mungkin sepotong daging yang kita berikan akan menjadi makanan paling mewah bagi seseorang tahun ini. Mungkin bantuan kecil kita membuat seorang ibu akhirnya bisa memasak dengan wajah bahagia. Mungkin perhatian sederhana kita menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa Allah masih menghadirkan kasih sayang melalui manusia lain.
Dan jangan pernah berpikir bahwa menolong sesama harus menunggu kaya.
Karena sering kali yang paling menyentuh bukan besarnya pemberian, tetapi ketulusan perhatian.
Ada orang yang tidak mampu membeli sapi, tetapi tenaganya dipakai membantu membagikan daging hingga malam. Ada pemuda yang rela kehujanan mengantar kurban ke rumah-rumah dhuafa. Ada orang miskin yang tetap berbagi nasi kepada tetangganya yang lebih susah. Dan bisa jadi, di hadapan Allah, mereka jauh lebih mulia daripada orang kaya yang berkurban tetapi hatinya penuh kesombongan.
Saudaraku… Suatu hari nanti kita semua akan pulang menghadap Allah. Jabatan akan tinggal nama. Harta akan tinggal angka. Yang tersisa hanyalah amal dan jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan di hati manusia lain.
Maka jangan biarkan Iduladha berlalu begitu saja.
Kalau hari ini Allah masih menitipkan rezeki di tangan kita, jadilah alasan seseorang bisa tersenyum.
Jadilah alasan seorang anak yatim merasa dicintai.
Jadilah alasan seorang fakir miskin kembali percaya bahwa dunia belum kehilangan hati nurani.
Karena bisa jadi… di saat kita menolong manusia yang lapar, sesungguhnya Allah sedang menyiapkan pertolongan untuk hidup kita sendiri.
Dan bisa jadi… air mata haru orang-orang kecil yang kita bahagiakan di hari raya ini, menjadi saksi yang menyelamatkan kita di hadapan Allah nanti.
Wallahualam Bishawab. Insya Allah meridhoi langkah kita. Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin.
(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)












