KASIMBAR,Jejak-kasusnews.web.id — Kericuhan dan ketegangan antrean kendaraan kembali terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kasimbar. Sejumlah sopir armada ekspedisi melayangkan protes keras dan merasa dikelabui oleh pihak manajemen SPBU terkait ketersediaan dan sistem penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Solar.
Kronologi Kejadian: Solar Disebut Habis, Mobil Elpiji Tetap Mengisi
Pemicu kemarahan para sopir bermula saat pihak petugas SPBU mengumumkan bahwa pasokan Solar subsidi telah habis.
Namun, di saat yang bersamaan, para sopir memergoki adanya aktivitas pengisian pada sebuah mobil pengangkut Elpiji yang diduga kuat menggunakan Solar subsidi.
Salah seorang sopir ekspedisi lintas wilayah yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekesalannya kepada tim media dengan nada tinggi dan penuh amarah.
“Mereka bilang ke kami Solar sudah habis. Tapi itu lihat sendiri, mobil Elpiji di sana malah ada pengisian yang diduga kuat memakai Solar subsidi!” ujar sopir ekspedisi tersebut dengan nada geram.
Setelah dilakukan desakan dan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak pengelola SPBU, barulah terungkap fakta bahwa tangki penyimpanan sebenarnya belum sepenuhnya kosong. Pihak SPBU mengakui masih tersisa sekitar 1 Ton Solar, namun mereka berdalih volume tersebut sengaja ditahan sebagai ‘jatah’ untuk pihak-pihak tertentu.
Sistem Antrean Diduga Diskriminatif: Mengutamakan Jalur Khusus “Akamsi”
Tak sampai di situ, ketidakadilan regulasi sepihak di SPBU Kasimbar kian diperparah dengan adanya kebijakan jadwal pengisian untuk keesokan harinya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pengisian Solar baru akan dibuka kembali pada pukul 08.00 pagi.
Namun, alih-alih mengutamakan kendaraan ekspedisi logistik yang sudah mengantre berhari-hari sejak kemarin, pihak SPBU justru menerapkan skema prioritas yang dinilai tebang pilih:
Prioritas Utama: Sebanyak 40 unit kendaraan Akamsi (Anak Kampung Sini) dijadwalkan masuk terlebih dahulu, dengan formasi 20 unit di lajur kiri dan 20 unit di lajur kanan.
Prioritas Kedua: Armada ekspedisi umum yang sudah telanjur menginap dan mengantre panjang dari hari sebelumnya baru diperbolehkan mengisi setelah barisan kendaraan “Akamsi” tersebut selesai dilayani.
Sistem pelayanan yang mendahulukan kelompok tertentu ini memicu kecemburan sosial dan kerugian material bagi para pelaku jasa ekspedisi logistik yang dikejar tenggat waktu pengiriman barang. Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan para sopir mendesak pihak Pertamina serta aparat penegak hukum (APH) setempat untuk segera turun tangan memeriksa dugaan penyelewengan distribusi Solar subsidi di SPBU Kasimbar tersebut.
( Moh Ronaldi )












