Daerah  

Korban Puting Beliung di Situraja Hanya Terima 10 Lembar Asbes, Yeni: “Kayunya Tidak Ada, Kami Harus Bagaimana?”

SUMEDANG, jejakkasus.web.id– Derita pasangan suami istri Yadi Suryadi dan Yeni Suherni, warga Dusun Cibiuk RT 04 RW 04, Desa Malaka, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, belum juga berakhir pasca rumah mereka dihantam pohon pete akibat hujan deras disertai angin puting beliung beberapa waktu lalu.

Meski sempat mendapat perhatian dari pemerintah desa dan bantuan dari sejumlah pihak, hingga kini kondisi rumah mereka masih jauh dari kata layak. Bagian atap yang rusak parah belum sepenuhnya diperbaiki, sementara musim hujan masih terus mengancam keselamatan keluarga tersebut.

Sebelumnya, rumah milik keluarga kurang mampu itu mengalami kerusakan serius setelah pohon pete besar tumbang dan menghantam bagian belakang rumah, terutama area dapur dan atap utama. Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Kini, harapan mereka hanya bergantung pada bantuan yang datang sedikit demi sedikit.

Saat ditemui tim STNews – Investigasi CyberTipikor pada Sabtu (09/05/2026), Yeni mengungkapkan bahwa bantuan terakhir datang dari Baznas melalui UPZ Kecamatan Situraja. Namun bantuan tersebut dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan utama.

“Bantuan terakhir katanya dari Baznas lewat UPZ Kecamatan Situraja, saya cuma menerima tujuh lembar asbes. Kata aparat desa ditambah tiga lembar jadi genap sepuluh lembar, sama paku,” ujar Yeni.

Namun menurutnya, bantuan tersebut belum cukup untuk memperbaiki rumah yang rusak, karena bahan utama lainnya justru tidak tersedia.

“Asbes sama paku memang dikirim, tapi kayu buat mengganti rangka yang sudah rapuh tidak ada. Jadi bagaimana mau dipasang?” ungkapnya dengan nada pasrah.

Yeni mengatakan, selain kayu penyangga yang belum tersedia, jumlah asbes yang diterima pun masih kurang untuk menutup seluruh bagian atap yang rusak.

Akibatnya, hingga kini sebagian rumah masih dalam kondisi rawan bocor dan belum aman ditempati secara maksimal.

“Kami cuma bisa pasrah dan menunggu. Ngumpulin, nyisihin dulu dari hasil kerja serabutan. Buat kebutuhan sehari-hari saja kadang tidak cukup,” ucap Yeni sambil menerawang, menahan beban hidup yang terus menghimpit.

Kondisi tersebut membuat keluarga ini masih hidup dalam ketidakpastian. Saat hujan turun, rasa cemas selalu datang karena atap rumah belum benar-benar aman dari kebocoran dan kerusakan lanjutan.

Tim media STNews – CyberTipikor yang kembali mendatangi lokasi melihat langsung bahwa sebagian struktur atap memang masih memerlukan perbaikan serius. Rangka kayu yang lapuk belum terganti, sementara beberapa bagian rumah masih ditutup seadanya.

Situasi ini menjadi perhatian serius, mengingat keluarga Yadi dan Yeni merupakan warga dengan kondisi ekonomi terbatas yang sangat sulit membiayai renovasi secara mandiri.

Masyarakat sekitar berharap ada perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah, dinas sosial, maupun para dermawan agar bantuan tidak berhenti hanya pada asbes dan paku semata, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan utama agar rumah tersebut kembali layak dihuni.

Bencana boleh berlalu, namun penderitaan korban belum selesai.

Bagi Yeni dan keluarganya, bantuan nyata bukan sekadar janji—melainkan harapan untuk bisa tidur tenang di bawah atap rumah sendiri.

“Kami tidak meminta mewah, hanya ingin rumah kami bisa kembali aman untuk ditempati.”

(Tim warta stnews-cybertipikor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *