Garut,Jejak-kasusnews.web.id – Beredarnya video di sejumlah media sosial terkait dugaan keracunan obat yang diberikan oleh Klinik BMC Bungbulang Desa Bungbulang, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, kepada seorang anak sekolah dasar mengundang perhatian publik. Seorang siswa kelas 4 SD berinisial BRA (10), warga Kampung Cijayana, Desa Jagabaya, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut, meninggal dunia setelah sempat dirujuk ke RSUD Pameungpeuk, Kamis (30/4/2026).
Kedua orang tua korban, Inisaial L(40) dan inisial H (50), mengaku terpukul atas meninggalnya putra mereka yang dinilai terjadi secara mendadak usai mengonsumsi obat dari klinik tersebut.
Saat dikonfirmasi awak media pada Jumat (1/5/2026), ibu korban menjelaskan kronologi awal kejadian. Menurutnya, anaknya dibawa ke Klinik BMC Bungbulang sekitar pukul 12.00 WIB karena mengalami benjolan di bagian leher.
“Setelah sampai di klinik, anak saya diperiksa dan terlihat biasa saja. Dokter sempat bertanya obatnya mau cair atau tablet. Anak saya minta yang cair, tapi dokter bilang kasih saja yang tablet,” ujar ibu korban.
Usai mendapatkan obat, keluarga sempat mampir ke rumah saudara. Di sana korban sempat meminta jajan dan masih dalam kondisi normal.

“Setelah pulang ke rumah, obat dari klinik langsung diminumkan. Beberapa menit kemudian anak saya tiba-tiba kejang-kejang, badannya membengkak, membiru, dan sesak napas,” tuturnya.
Melihat kondisi anaknya memburuk, keluarga langsung membawa korban ke tenaga medis setempat untuk mendapatkan bantuan oksigen. Namun karena keterbatasan penanganan, korban kemudian dirujuk ke RSUD Pameungpeuk.
“Setelah sampai di rumah sakit langsung ditangani dokter, tapi tiba-tiba anak saya dinyatakan meninggal dunia,” katanya.
Pihak keluarga berharap ada perhatian serius dari pihak terkait agar penyebab pasti meninggalnya anak mereka dapat diungkap secara jelas.
“Kami hanya ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi pada anak kami,” ujar keluarga.
Sementara itu, pihak IGD RSUD Pameungpeuk saat dikonfirmasi belum dapat memberikan keterangan rinci terkait penyebab kematian korban.
“Belum bisa memberikan penjelasan karena perlu kajian medis lebih mendalam bersama pihak manajemen,” ujar salah seorang petugas medis.
Di sisi lain, pihak Klinik BMC Bungbulang melalui dr. Dessy Supitra Amiyati, M.K.M, selaku penanggung jawab klinik, membantah adanya kesalahan prosedur pemberian obat.
Menurut dr. Dessy, berdasarkan rekam medis pasien, obat yang diberikan telah sesuai dengan ketentuan dosis berdasarkan berat badan pasien.
“Kami juga turut berduka cita. Setelah kami cek rekam medis, pemberian obat sudah sesuai aturan, baik jenis maupun dosisnya,” jelasnya saat ditemui awak media di Cikuya Desa Mekarjaya Kecamatan Bungbulang, Jumat (1/5/2026).
Ia menilai reaksi yang dialami korban kecil kemungkinan merupakan efek langsung dari obat yang diberikan.
“Kalau reaksi obat yang cepat biasanya terjadi jika obat masuk langsung ke pembuluh darah, misalnya melalui suntikan. Kalau obat tablet harus melalui proses pencernaan terlebih dahulu. Gejala seperti kejang dan tubuh membiru secara mendadak lebih mungkin karena kekurangan oksigen,” terangnya.
dr. Dessy menduga kondisi tersebut bisa saja dipicu faktor lain, termasuk kemungkinan tersedak atau adanya kondisi medis lain yang berkaitan dengan benjolan di leher korban.
Ia juga menyayangkan beredarnya sejumlah unggahan di media sosial yang menurutnya menggiring opini dan merugikan pihak klinik.
“Kami merasa dirugikan jika langsung disimpulkan sebagai akibat obat tanpa kajian medis. Kami berharap masyarakat menunggu hasil klarifikasi yang objektif,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada hasil pemeriksaan medis resmi yang menyatakan penyebab pasti meninggalnya korban. Kasus ini masih menunggu penelusuran lebih lanjut dari pihak berwenang guna memastikan fakta medis yang sebenarnya.
Red/ Tim Liputan
M/B/H












