News  

Perlu Kami Sampaikan Kritik Sosial kepada Pemerintah dengan Landasan Nilai-Nilai Agama

GARUT,Jejak-kasusnews.web.id – Di tengah berbagai persoalan yang masih dirasakan masyarakat, mulai dari kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, hingga berbagai keluhan terkait pelayanan publik, seorang anak muda asal Garut, Hendi Heryana, menyampaikan kritik sosial kepada pemerintah dengan mengedepankan nilai-nilai agama sebagai landasan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Hendi Heryana, kritik terhadap pemerintah bukanlah bentuk kebencian terhadap negara, melainkan bagian dari kepedulian masyarakat agar para pemimpin senantiasa menjalankan amanah yang telah diberikan oleh rakyat.

Dalam pandangannya, jabatan merupakan titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Hendi mengingatkan sebuah firman Allah SWT dalam Al-Quran :

Inna Allāha ya’murukum an tu’addul-amānāti ilā ahlihā.

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)

Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus digunakan untuk melayani rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

“Ketika masih ada rakyat yang kesulitan mencari pekerjaan, ketika masih ada anak-anak yang terancam putus sekolah karena ekonomi, ketika masih ada warga yang harus berjuang mendapatkan pelayanan yang layak, maka pemerintah harus hadir dengan hati nurani,” ujar Hendi.

Ia juga mengutip sabda Rasulullah SAW:

Latin: Kullukum rā’in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra’iyyatihi.

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Hendi, hadis tersebut mengandung pesan yang sangat kuat bahwa seorang pemimpin wajib mendengar suara rakyat, terutama suara masyarakat kecil yang sering kali tidak memiliki akses untuk menyampaikan keluhannya.

Dalam pernyataannya, Hendi juga menyoroti kondisi sebagian masyarakat yang merasa harapan mereka semakin jauh dari kenyataan. Banyak warga yang menginginkan kehidupan yang lebih baik, namun masih menghadapi berbagai kesulitan ekonomi.

“Di pelosok-pelosok kampung, masih ada orang tua yang bekerja keras demi menyekolahkan anaknya. Masih ada masyarakat yang berharap bantuan datang tepat sasaran. Masih ada rakyat kecil yang menunggu keadilan dan perhatian. Mereka bukan angka statistik. Mereka adalah manusia yang memiliki harapan dan mimpi,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kritik yang disampaikan harus dipahami sebagai bentuk kecintaan kepada bangsa.

Hendi kemudian mengingatkan firman Allah SWT :

Latin: Wa lā tabkhasūn-nāsa asy-yā’ahum.

Artinya: “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya.” (QS. Asy-Syu’ara: 183)

Menurutnya, setiap kebijakan yang dibuat harus berpihak kepada kepentingan masyarakat luas dan tidak boleh mengabaikan hak-hak rakyat.

Dalam suasana yang penuh keprihatinan, Hendi mengatakan bahwa yang paling menyedihkan bukanlah ketika rakyat mengeluh, melainkan ketika keluhan itu tidak lagi didengar.

“Betapa sedihnya ketika suara masyarakat kecil hanya menjadi gema yang hilang di tengah hiruk-pikuk kepentingan. Betapa pilunya ketika seorang ibu harus memikirkan biaya makan esok hari, sementara di tempat lain terjadi pemborosan yang tidak perlu. Betapa menyakitkan ketika rakyat berharap keadilan, namun yang datang justru kekecewaan,” ungkapnya.

Ia kembali mengingatkan pesan Rasulullah SAW :

Allāhumma man waliya min amri ummatī syai’an fasyaqqa ‘alaihim fasyquq ‘alaihi, wa man waliya min amri ummatī syai’an farafaqa bihim farfuq bih.

Artinya: “Ya Allah, siapa yang mengurus urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang mengurus urusan umatku lalu berlaku lembut kepada mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR. Muslim)

Menutup pernyataannya, Hendi Heryana mengajak seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk bersama-sama membangun negeri dengan kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial.

“Kritik bukanlah permusuhan. Kritik adalah tanda bahwa masih ada orang yang peduli. Semoga para pemimpin negeri ini senantiasa diberikan kekuatan untuk mendengar suara rakyat, memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Karena pada akhirnya, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan selesai, namun pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT akan tetap menanti,” pungkas Hendi Heryana.

 

 

Red***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *