News  

Tangis Haru Iringi Kemenangan Desa Cot Ara, Raih Juara Umum MTQ ke-38 Tingkat Kemukiman Panteu Breuh

ACEH UTARA,Jejak-kasusnews.web.id – Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-38 Tingkat Kemukiman Panteu Breuh, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara Tahun 2026, Rabu (24/06/2026). Setelah melalui rangkaian perlombaan yang berlangsung dengan penuh semangat dan nuansa religius, Desa Cot Ara berhasil dinobatkan sebagai Juara Umum, mengungguli 13 desa lainnya yang turut berpartisipasi dalam ajang syiar Islam tersebut.

Kemenangan itu bukan sekadar trofi dan gelar juara. Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjuangan panjang para peserta yang selama berbulan-bulan berlatih, menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an, melatih bacaan, serta mengorbankan waktu bermain dan beristirahat demi mengharumkan nama desa mereka.

Saat nama Desa Cot Ara diumumkan sebagai Juara Umum, suasana berubah menjadi lautan haru. Wajah-wajah bahagia bercampur air mata terlihat dari para kafilah, pelatih, orang tua, hingga masyarakat yang hadir. Banyak yang tak mampu menyembunyikan rasa bangga setelah melihat kerja keras para putra-putri terbaik desa mereka berbuah prestasi gemilang.

Geuchik Desa Cot Ara, Saifuddin, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan hasil dari kebersamaan seluruh elemen masyarakat yang selama ini memberikan dukungan tanpa henti kepada para peserta.

“Alhamdulillah, ini bukan kemenangan satu atau dua orang, melainkan kemenangan seluruh masyarakat Desa Cot Ara. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada para peserta, pelatih, dewan guru, orang tua, dan seluruh warga yang telah memberikan doa serta dukungan terbaik,” ujarnya dengan penuh haru.

Ia menuturkan, di balik keberhasilan yang diraih hari ini terdapat perjuangan yang tidak ringan. Para peserta harus menjalani latihan rutin, belajar dengan tekun, dan menjaga disiplin agar mampu tampil maksimal di hadapan dewan hakim.

“Kami menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak berjuang. Ada yang berlatih hingga malam hari, ada yang terus mengulang hafalan ketika teman-teman seusianya sedang bermain. Hari ini Allah SWT memberikan hasil terbaik atas usaha mereka,” katanya.

Saifuddin berharap prestasi tersebut tidak membuat para kafilah cepat berpuas diri. Justru kemenangan ini harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga lahir semakin banyak generasi Qur’ani dari Desa Cot Ara. Kami ingin anak-anak tidak hanya berprestasi di arena MTQ, tetapi juga menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan mencintai Al-Qur’an sepanjang hidupnya,” tambahnya.

Di tengah kebahagiaan kemenangan, terselip pula rasa haru karena perjuangan menuju tingkat yang lebih tinggi masih harus dilalui. Para peserta yang akan mewakili Kemukiman Panteu Breuh pada MTQ Tingkat Kecamatan Baktiya diharapkan terus berlatih dan menjaga semangat agar mampu mempertahankan prestasi yang telah diraih.

“Perjalanan masih panjang. Kami berharap anak-anak tetap rendah hati, terus belajar, dan kembali membawa nama baik Kemukiman Panteu Breuh serta Desa Cot Ara di tingkat kecamatan bahkan hingga tingkat yang lebih tinggi,” ungkap Saifuddin.

MTQ ke-38 Tingkat Kemukiman Panteu Breuh tahun ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Selama pelaksanaan kegiatan, masyarakat dari 14 desa terlihat bersatu dalam suasana penuh persaudaraan, saling mendukung, dan bersama-sama menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

Ketika lampu panggung mulai redup dan acara penutupan berakhir, kebanggaan masih terpancar dari wajah para kafilah Desa Cot Ara. Air mata haru yang mengalir menjadi saksi bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang menjadi juara, melainkan tentang perjuangan, doa, kebersamaan, dan kecintaan kepada Kalamullah yang telah menyatukan hati seluruh masyarakat.

Desa Cot Ara hari ini telah menorehkan sejarah. Sebuah kemenangan yang lahir dari ketekunan, doa orang tua, bimbingan guru, dan semangat generasi muda yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan.

 

Zulfikar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *