GARUT,Jejakkasusnews.web.id – Suasana Sungai Cikandang dan Sungai Cigebang di Desa Karangsari, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, tampak ramai dipadati warga yang berburu ikan menga atau boboso dengan cara tradisional yang dikenal masyarakat setempat sebagai ngagugudeg atau ngadorang, Rabu (22/7/2026).
Meski musim berburu ikan impun di muara telah berakhir beberapa pekan lalu, hal itu tidak menyurutkan semangat warga. Mereka kini beralih menyusuri aliran sungai untuk mencari ikan menga, yakni impun yang telah tumbuh lebih besar setelah bermigrasi dari muara ke hulu sungai.
Tradisi ngagugudeg telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Desa Karangsari dan sekitarnya. Sejak pagi hingga menjelang petang, warga dari berbagai usia tampak turun ke sungai membawa jaring tradisional atau lintar/herap (kecrik) untuk menangkap ikan.
Herman (50), salah seorang warga yang sedang berburu ikan, menjelaskan bahwa teknik ngagugudeg berbeda dengan menangkap impun di muara.
“Kalau di muara, impun ditangkap saat ombak datang lalu langsung diangkat. Kalau ngagugudeg, jaring dipasang di sela bebatuan sungai yang arusnya deras. Batu-batu kemudian digeser agar ikan yang bersembunyi keluar dan masuk ke dalam jaring. Jaring baru diangkat setelah ikan cukup banyak berkumpul,” ujarnya kepada Jejak Kasus News.
Menurut Herman, proses tersebut merupakan bagian dari siklus alami ikan yang bermigrasi dari muara menuju hulu sungai. Menariknya, ikan menga yang berhasil naik ke sungai memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan impun yang ditangkap di muara.
Sementara itu, Asep (45), warga lainnya, mengatakan tradisi ngagugudeg sudah dilakukan secara turun-temurun dan selalu dinantikan masyarakat setiap musim kemarau setelah musim impun berakhir.
“Tradisi ini sudah ada sejak zaman dulu. Orang tua, pemuda, bahkan anak-anak ikut turun ke sungai. Selain mencari ikan, ini juga menjadi momen kebersamaan warga,” katanya.
Menurutnya, dalam sehari seorang warga bisa memperoleh hasil tangkapan hingga satu ember dengan berat mencapai sekitar 10 kilogram, tergantung kondisi sungai dan keberuntungan.
“Hasil tangkapan biasanya untuk dikonsumsi bersama keluarga. Rasanya lebih nikmat karena didapat langsung dari alam dengan cara tradisional,” tambahnya.
Tradisi ngagugudeg hingga kini masih terus dilestarikan masyarakat sekitar Sungai Cikandang dan Sungai Cigebang sebagai bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam serta pentingnya menjaga kelestarian ekosistem sungai agar tradisi tersebut tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hendra












