Makassar,Jejakkasusnews.web.id – Program Pascasarjana Universitas Tamalatea Makassar (UTAMA) menggelar matrikulasi mahasiswa baru sebagai langkah awal memperkuat kesiapan akademik sebelum memasuki perkuliahan jenjang magister. Kegiatan tersebut berlangsung secara Zoom Meet sejak tanggal 3 – 4 Oktober 2026.
Matrikulasi ini menjadi ruang penguatan wawasan, pengenalan budaya ilmiah, serta penyesuaian terhadap sistem pembelajaran pascasarjana, khususnya bagi mahasiswa baru Program Studi Magister (S2) Kesehatan Masyarakat yang berasal dari beragam latar belakang pendidikan dan daerah.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Rektor UTAMA, Dr. H. Muh. Ilyas Nur, SKM., M.Adm.Kes dan dihadiri Direktur Pascasarjana UTAMA, Dr. Rahmawati Aziz, SKM., M.Si, jajaran pimpinan Universitas Tamalatea Makassar, pengelola Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat serta sivitas akademika Pascasarjana UTAMA.
Dalam sambutannya, Rektor UTAMA, Dr. H. Muh. Ilyas Nur, SKM., M.Adm.Kes, menekankan bahwa pendidikan magister membutuhkan kesiapan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga intelektual, mental, dan akademik.
Menurut dia, mahasiswa pascasarjana dituntut membangun budaya belajar yang lebih mandiri, memperkuat kemampuan membaca dan menganalisis, serta mengembangkan gagasan ilmiah yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lanjutnya, Matrikulasi, menjadi momentum untuk menyamakan persepsi antara mahasiswa baru dan lingkungan akademik Pascasarjana UTAMA.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan magister bukan sekadar proses memperoleh gelar, melainkan kesempatan memperdalam keilmuan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan menghasilkan kontribusi melalui penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Rektor juga mendorong mahasiswa memanfaatkan lingkungan akademik UTAMA untuk membangun jejaring, memperluas wawasan, dan meningkatkan kompetensi profesional.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana UTAMA, Dr. Rahmawati Aziz, SKM., M.Si, menjelaskan bahwa matrikulasi memiliki peran strategis dalam mempersiapkan mahasiswa baru menghadapi dinamika pembelajaran pada jenjang magister.
Menurut dia, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat tidak seluruhnya berasal dari disiplin ilmu yang sama. Sebagian memiliki latar belakang pendidikan di bidang pemerintahan, pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, maupun bidang keilmuan lainnya.
Keragaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun diskusi akademik yang lebih luas, sekaligus memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami persoalan Kesehatan Masyarakat.
Karena itu, matrikulasi dirancang untuk memberikan fondasi akademik yang relatif setara agar seluruh mahasiswa memiliki kesiapan mengikuti proses perkuliahan.
Dr. Rahmawati Aziz, SKM., M.Si juga menekankan pentingnya membangun budaya akademik melalui tradisi membaca, menulis, berdiskusi, melakukan penelitian, dan mengembangkan gagasan secara ilmiah.
Menurut dia, Mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga harus mampu berperan dalam proses produksi dan pengembangan pengetahuan.
โPascasarjana harus menjadi ruang bertemunya pengalaman, keilmuan, dan gagasan. Perbedaan latar belakang mahasiswa justru harus menjadi kekuatan untuk membangun diskusi dan kolaborasi akademik,โ pesannya.
Ia berharap mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat mampu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan pemerintah.
Dengan demikian, pendidikan pascasarjana tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan, tetapi juga berdampak pada peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Penyelenggaraan matrikulasi sekaligus menegaskan komitmen Pascasarjana UTAMA dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas, adaptif, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Bagi mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, kegiatan ini menjadi titik awal perjalanan akademik untuk memperkuat kompetensi keilmuan dan profesional, sekaligus mempersiapkan diri memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan pembangunan nasional. “Tutupnya”.
(Arman Sulsel/Tim)












