BENCANA BISA DATANG KAPAN SAJA, KETUM FRIC H. DIAN SURAHMAN AJAK MASYARAKAT SIAP, TENANG DAN TAHU CARA MENYELAMATKAN DIRI

JAKARTA,Jejakkasusnews.web.id – FRIC 9 September 2026 — Bencana tidak pernah mengenal waktu. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin kencang maupun berbagai potensi bencana lainnya dapat terjadi sewaktu-waktu dan di luar perkiraan.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi situasi darurat.

Masyarakat diimbau tidak larut dalam kepanikan, tetapi membangun pengetahuan, kewaspadaan serta kesiapan sejak sebelum bencana terjadi.

Ketua Umum Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Dian Surahman, mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kesiapsiagaan bukan berarti masyarakat harus hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, kesiapsiagaan merupakan bentuk kepedulian dan ikhtiar untuk melindungi diri sendiri, keluarga serta orang-orang di sekitar.

“Bencana bisa datang kapan saja. Tidak perlu panik, yang penting kita siap dan tahu harus berbuat apa. Kesiapsiagaan bukan soal takut terhadap bencana, tetapi soal mengetahui cara menyelamatkan diri dan orang-orang yang kita sayang,” ujar H. Dian Surahman.

Ia menegaskan, kepanikan justru dapat memperburuk keadaan ketika bencana terjadi. Dalam kondisi darurat, masyarakat membutuhkan ketenangan agar dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah-langkah dasar menghadapi bencana, mulai dari mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing, mengetahui jalur dan titik evakuasi, menyiapkan perlengkapan darurat, hingga memastikan anggota keluarga memahami apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.

“Jangan menunggu bencana datang baru kita belajar. Persiapan harus dilakukan dari sekarang. Kenali lingkungan, pahami potensi risikonya, siapkan keluarga dan jangan mudah panik ketika menghadapi keadaan darurat,” tegasnya.

H. Dian Surahman juga mengingatkan agar masyarakat selalu memperhatikan informasi dan peringatan resmi dari pemerintah maupun instansi berwenang, terutama ketika terjadi kondisi cuaca ekstrem atau muncul potensi bencana di suatu wilayah.

Menurutnya, budaya sadar bencana harus terus dibangun secara bersama-sama. Keselamatan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas di lapangan, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat.

FRIC mendorong masyarakat untuk saling mengingatkan, membantu kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan penyandang disabilitas, serta mengutamakan keselamatan ketika terjadi situasi darurat.

“Yang paling penting adalah jangan merasa bencana itu jauh dari kita. Kapan pun dan di mana pun bisa terjadi. Mari kita bangun kesadaran bahwa siap menghadapi bencana berarti kita sedang menjaga kehidupan,” pungkas H. Dian Surahman.

FRIC menegaskan komitmennya untuk terus menyampaikan edukasi dan pesan-pesan kemanusiaan kepada masyarakat, termasuk pentingnya kesiapsiagaan, kepedulian sosial dan gotong royong dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Siap bukan berarti takut. Siap berarti waspada, tenang, tahu harus bertindak, dan siap menyelamatkan diri serta sesama.

 

Red…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *