ACEH UTARA,Jejakkasusnews.web.id –
Peringatan 800 tahun Samudera Pasai-Aceh Utara tidak hanya dikemas dalam agenda seremonial, tetapi juga dihidupkan melalui beragam kesenian dan tradisi yang mencerminkan kekayaan budaya masyarakat Aceh Utara.
Pembukaan Piasan Pase 2026, Senin (7/9/2026) di halaman depan kantor bupati turut dimeriahkan dengan penampilan berbagai kesenian tradisional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kolaborasi 50 Rapai Pase dengan serune kale dan 50 penari Ratoeh Jaroe.
Tabuhan Rapai Pase yang menggema berpadu dengan alunan musik tradisional dan gerakan para penari, menciptakan suasana meriah sekaligus membawa kembali semangat seni dan budaya Pasee di tengah masyarakat.
Tak hanya pertunjukan seni, makan bersama di dapur umum juga menjadi bagian yang menarik dari perayaan tersebut. Momen ini bukan sekadar menyajikan makanan, tetapi menjadi ruang kebersamaan masyarakat dalam menikmati kuliner khas Aceh.
Menu tradisional seperti kuah pliek dan kuah eungkot muloh disajikan untuk masyarakat. Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol keakraban sekaligus upaya memperkenalkan kembali cita rasa kuliner warisan leluhur kepada generasi sekarang.
Ketua Panitia Peringatan 800 Tahun Samudera Pasai, M. Jhony, S.H., mengatakan rangkaian kegiatan diharapkan dapat menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sejarah, budaya, dan nilai-nilai peradaban Pasai kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, peringatan delapan abad Samudera Pasai bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai pijakan untuk membangun masa depan dengan tetap menjaga marwah daerah dan nilai-nilai syariat Islam.
Rangkaian Piasan Pase 2026 berlangsung hingga 13 September mendatang, dengan berbagai agenda yang menggabungkan unsur sejarah, budaya, seni, kuliner, dan kebersamaan masyarakat.,ujarnya
[ZR]
Piasan Pase 2026 Hidupkan Kembali Cita Rasa Aceh, Kuah Pliek dan Eungkot Muloh Jadi Sajian Kebersamaan












