ACEH UTARA,Jejakkasusnews.web.id – Sebuah tayangan video singkat yang diputar pada malam pembukaan puncak peringatan ke 800 tahun Samudera Pasai di lapangan Kantor bupati Aceh Utara saat menyajikan cerita yang berbeda.
Bukan hanya tentang sejarah kejayaan Samudera Pasai, tetapi juga tentang perjalanan Aceh Utara menghadapi musibah dan bangkit bersama.
Dalam agenda Piasan Pase 2026, video tersebut mengajak para tamu dan masyarakat menyaksikan kembali rekam jejak perjalanan Aceh Utara setelah dilanda banjir bandang pada November 2025 lalu.
Sejumlah potongan gambar memperlihatkan kondisi masyarakat saat bencana melanda. Di tengah situasi sulit itu, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayah Wa, bersama jajaran pemerintah daerah turun langsung ke berbagai lokasi terdampak.
Tidak hanya hadir dalam agenda pemerintahan, Ayah Wa terlihat berada di tengah masyarakat, melihat langsung kondisi warga, menyapa mereka, memberikan semangat dan memastikan proses penanganan pascabencana terus berjalan.
Dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya, perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita di balik layar tentang bagaimana pemerintah bersama masyarakat berusaha melewati masa sulit.
Membersihkan lingkungan yang terdampak, membantu proses pemulihan, mendampingi masyarakat serta memastikan kebutuhan warga menjadi bagian dari perjalanan panjang pascabanjir.
Video itu juga menggambarkan bagaimana Ayah Wa bersama jajaran tidak hanya datang ketika kamera merekam, tetapi berusaha hadir di tengah masyarakat dalam berbagai kondisi dan di berbagai pelosok Aceh Utara.
Pesan yang tersampaikan cukup sederhana, namun kuat: musibah boleh datang, tetapi semangat untuk bangkit tidak boleh padam.
Perjalanan tersebut kemudian dirangkai dengan kondisi Aceh Utara hari ini. Dari wajah-wajah masyarakat yang sempat dilanda kesedihan, perlahan muncul kembali senyum, aktivitas ekonomi, kehidupan sosial dan semangat untuk menata masa depan.
“Aceh Utara Bangkit” menjadi benang merah dari cerita yang ditampilkan.
Momentum peringatan 800 tahun Samudera Pasai pun menjadi ruang untuk melihat perjalanan tersebut dalam perspektif yang lebih luas.
Delapan abad lalu, Samudera Pasai dikenal sebagai pusat peradaban dan perdagangan yang memiliki pengaruh besar di kawasan. Kini, generasi Aceh Utara kembali dihadapkan pada tantangan untuk menjaga warisan tersebut sekaligus membangun daerah agar semakin kuat.
Kisah yang ditampilkan dalam video itu seakan mengingatkan bahwa membangun sebuah daerah bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah dan masyarakat saling menguatkan ketika menghadapi ujian ,.
Zulfikar












