Batam,Jejakkasusnews.web.id – Bagi sebagian anak, perjalanan menuju sekolah mungkin hanya soal menunggu kendaraan atau berjalan kaki melewati jalan yang sudah beraspal. Namun, bagi anak-anak di Pulau Mat Belanda, Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakang Padang, Batam, berangkat sekolah adalah perjuangan yang jauh berbeda.
Mereka harus menaklukkan laut, lumpur, karang hingga sampah, demi satu tujuan: sampai ke sekolah dan mengejar cita-cita.
Pemandangan memprihatinkan itu terekam dalam sebuah video yang beredar. Sejumlah anak berseragam sekolah terlihat berjalan tanpa alas kaki di atas lumpur laut saat air sedang surut.
Tas sekolah tetap digendong. Sepatu terpaksa dilepas. Langkah kecil mereka perlahan menembus hamparan lumpur yang bercampur karang dan sampah.
Bagi mereka, kondisi tersebut bukan sekadar pemandangan sesaat. Itulah rutinitas.
Setiap hari, kondisi pasang surut air laut menjadi penentu bagaimana mereka berangkat dan pulang sekolah.
Saat air surut, kaki-kaki kecil itu harus menapak lumpur dan berjalan di tengah laut. Ketika air kembali pasang, mereka harus mengandalkan sampan atau pompong kecil untuk menyeberang.
Risiko terpeleset, terluka terkena karang, terjatuh ke laut hingga menghadapi kondisi cuaca yang berubah-ubah menjadi bagian dari perjalanan yang harus mereka hadapi.
Di tengah keterbatasan itu, anak-anak tersebut tetap berangkat sekolah.
Mereka tidak sedang mencari kemewahan. Mereka hanya ingin bersekolah.
Pernah Masuk Usulan Musrenbang, Mengapa Belum Terwujud?
Ironisnya, persoalan akses penghubung Pulau Mat Belanda bukan persoalan yang baru diketahui.
Wacana pembangunan jembatan penyeberangan maupun pelantar penghubung disebut pernah diusulkan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Belakang Padang.
Harapan warga pun sempat tumbuh.
Sebab, bagi masyarakat Pulau Mat Belanda, akses penghubung bukan sekadar proyek pembangunan. Infrastruktur tersebut menyangkut
keselamatan anak-anak, akses kesehatan, mobilitas warga hingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Namun, hingga kini, realisasi akses penghubung yang dinantikan warga belum juga terlihat.
Pertanyaan pun muncul.
Apakah pembangunan tersebut terkendala efisiensi anggaran? Ataukah akses Pulau Mat Belanda belum menjadi prioritas pembangunan?
Pertanyaan itu tentu membutuhkan jawaban pemerintah.
Sebab, ketika sebuah usulan pembangunan berkaitan langsung dengan keselamatan dan kebutuhan
dasar masyarakat, warga tentu berharap ada kejelasan: kapan akan diwujudkan, apa kendalanya, dan bagaimana solusi pemerintah?
Bukan Hanya Sekolah, Nyawa Warga Juga Dipertaruhkan
Persoalan akses di Pulau Mat Belanda ternyata tidak berhenti pada urusan pendidikan.
Ketiadaan akses penghubung yang memadai juga menjadi persoalan serius ketika warga menghadapi kondisi darurat.
Izazat karunia.












