KONSTRUKSI SAYAP JEMBATAN DESA LANOSI DISOROT, WARGA PERTANYAKAN KESESUAIAN DENGAN DESAIN TEKNIS

LUWU TIMUR,Jejakkasusnews.web.id — Konstruksi sayap jembatan di jalur Trans Sulawesi, Desa Lanosi, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, mendapat sorotan dari masyarakat.

Pekerjaan konstruksi yang berada di sisi jembatan dan berdekatan dengan badan jalan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian, terutama terkait kesesuaian pelaksanaan dengan desain teknis serta aspek keselamatan pengguna jalan.

Warga mempertanyakan apakah posisi dan bentuk konstruksi sayap jembatan yang sedang dikerjakan telah sesuai dengan gambar rencana, gambar kerja, spesifikasi teknis dan metode pelaksanaan yang menjadi dasar pekerjaan.

Pertanyaan tersebut muncul karena lokasi pekerjaan berada pada jalur yang setiap hari dilalui kendaraan maupun masyarakat. Keberadaan konstruksi yang berada cukup dekat dengan badan jalan dinilai perlu diikuti dengan pengamanan yang memadai agar tidak menimbulkan risiko bagi pengguna jalan.

TULANGAN KONSTRUKSI JADI SOROTAN

Dari pantauan di lokasi, terlihat sejumlah besi tulangan pada bagian konstruksi sayap jembatan yang berada di sisi badan jalan.

Kondisi tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan teknis. Di antaranya, apakah diameter dan jarak tulangan, panjang penyaluran, kedalaman pemasangan serta detail konstruksi lainnya telah sesuai dengan gambar kerja dan spesifikasi teknis pekerjaan.

Warga juga mempertanyakan apakah pelaksanaan di lapangan telah mengikuti shop drawing yang telah disetujui serta metode pelaksanaan yang ditetapkan dalam dokumen pekerjaan.

Namun demikian, kondisi visual di lapangan tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya ketidaksesuaian pekerjaan.

Kepastian mengenai hal tersebut membutuhkan pemeriksaan teknis serta pencocokan langsung antara kondisi konstruksi di lapangan dengan dokumen kontrak, gambar rencana, shop drawing dan spesifikasi teknis.

KESELAMATAN PENGGUNA JALAN TURUT DIPERTANYAKAN

Selain aspek teknis konstruksi, masyarakat juga menyoroti keselamatan pengguna jalan selama pekerjaan berlangsung.

Posisi pekerjaan yang berada di sekitar badan jalan membuat pengamanan lokasi menjadi hal penting. Rambu pekerjaan, pembatas area konstruksi, pengaturan lalu lintas serta ruang aman bagi pejalan kaki dinilai perlu mendapat perhatian.

Masyarakat berharap pekerjaan tidak hanya mengejar penyelesaian fisik, tetapi juga memastikan aktivitas konstruksi tidak membahayakan pengguna jalan yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.

BBPJN SULSEL DAN PPK DIMINTA MELAKUKAN PENGECEKAN

Mengingat pekerjaan berada pada jalur Trans Sulawesi, masyarakat berharap pihak berwenang, termasuk Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sulawesi Selatan dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) terkait, dapat melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

Publik juga berkepentingan mengetahui secara jelas identitas pekerjaan tersebut, mulai dari nama paket, sumber anggaran, nilai kontrak, kontraktor pelaksana, konsultan pengawas, PPK hingga desain teknis pembangunan sayap jembatan.

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah konstruksi yang saat ini dikerjakan telah sesuai dengan perencanaan dan ketentuan teknis yang menjadi dasar pelaksanaan.

Jika seluruh pekerjaan telah sesuai dengan desain dan spesifikasi, penjelasan dari pihak teknis tentu dapat memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus menghilangkan berbagai pertanyaan yang berkembang di lapangan.

WARGA TEGASKAN BUKAN MENOLAK PEMBANGUNAN

Warga menegaskan bahwa sorotan terhadap pekerjaan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan infrastruktur.

Masyarakat justru mendukung pembangunan, namun berharap setiap pekerjaan dilaksanakan secara transparan, sesuai perencanaan, memenuhi standar teknis dan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat.

“Kami mendukung pembangunan. Tetapi kami ingin pekerjaan ini benar-benar sesuai gambar dan aturan. Kalau memang sudah sesuai, kami berharap pihak terkait menjelaskannya kepada masyarakat supaya tidak menimbulkan pertanyaan,” ujar seorang warga.9/9/2026

Kini perhatian masyarakat tertuju kepada pihak pelaksana, konsultan pengawas, PPK dan instansi teknis terkait untuk memberikan penjelasan mengenai konstruksi sayap jembatan tersebut.

Sebab, kualitas sebuah proyek infrastruktur tidak hanya diukur dari bangunan yang selesai berdiri, tetapi juga dari kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan, mutu konstruksi, transparansi pekerjaan serta keselamatan masyarakat selama proyek berlangsung.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana dan instansi teknis terkait masih perlu dimintai klarifikasi mengenai pekerjaan konstruksi sayap jembatan tersebut.

(Arman Sulsel/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *