Belakang Padang,Jejak-kasusnews.web.id – Peredaran narkotika jenis sabu di Kecamatan Belakang Padang diduga masih berlangsung dan melibatkan sejumlah jaringan pengedar di beberapa kampung. Berdasarkan informasi yang dihimpun Bataminfo, jaringan tersebut diduga dikendalikan oleh seorang pria yang dikenal dengan alias Kunyet.
Menurut seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya, Minggu (19/7/2026), Kunyet diduga menjalankan peredaran sabu dengan melibatkan sejumlah kaki tangan di berbagai wilayah Belakang Padang.
Di Kampung Baru, misalnya, Kunyet disebut menyuplai sabu kepada seorang pria berinisial DL. Barang diduga diberikan lebih dahulu, sementara hasil penjualannya baru disetorkan setelah seluruh paket habis terjual.
“Biasanya sekali loading sekitar setengah set atau kurang lebih 2,5 gram,” ujar sumber.
Sabu tersebut, lanjutnya, kemudian dipaketkan dalam berbagai ukuran dengan harga Rp100 ribu, Rp150 ribu, hingga Rp200 ribu per paket. Untuk pembelian dalam jumlah lebih besar, paket disebut dibuat sesuai permintaan pembeli.
Sumber menyebutkan, pengguna sabu diduga berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja swasta hingga buruh harian.
Sementara di Kampung Jawa, seorang pria berinisial AJ disebut pernah menjadi bagian dari jaringan tersebut. Namun, menurut sumber, AJ telah diamankan aparat sekitar sebulan lalu dan saat ini sedang menjalani proses hukum.
Bataminfo masih menelusuri dugaan keterlibatan pihak-pihak lain yang diduga menjadi bagian dari jaringan peredaran sabu di kampung-kampung lain di Belakang Padang.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, omzet peredaran sabu yang diduga dikendalikan Kunyet disebut dapat mencapai belasan juta rupiah per hari. Dalam menjalankan aktivitasnya, Kunyet juga disebut kerap berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari deteksi.
Sumber menyebutkan, pria tersebut memiliki sebuah rumah di Pulau Mat Belanda serta menyewa dua rumah di Kampung Jawa. Satu rumah berada di kawasan perbukitan, sedangkan satu lainnya berada di kawasan pelantar. Kedua rumah itu diduga digunakan sebagai tempat memaketkan sabu sebelum diedarkan kepada para pengedar di lapangan.
Selain menyuplai kepada jaringan yang diduga menjadi kaki tangannya, Kunyet juga disebut masih melayani penjualan langsung kepada pengguna dalam paket kecil.
Dalam aktivitas sehari-hari, Kunyet disebut sering berganti kendaraan. Dua sepeda motor yang paling sering digunakan, menurut sumber, adalah Suzuki Satria FU berwarna hitam dan sebuah motor sport naked berwarna kuning dengan nomor polisi yang diduga sengaja diburamkan.
Keberadaan Kunyet, menurut sejumlah warga, telah lama menjadi perbincangan di lingkungan setempat. Bahkan, saat kegiatan pengundian doorprize Gerak Jalan Nursing 2026 Universitas Batam yang diselenggarakan mahasiswa KKN bersama pengurus RW 003, nama Kunyet sempat menjadi bahan candaan warga.
“Kalau mau hadiah utama, ke rumah Kunyet,” ujar salah seorang warga, yang kemudian disambut tawa peserta.
Namun setelah candaan tersebut, pembicaraan berlanjut secara serius mengenai dugaan maraknya peredaran sabu di lingkungan mereka.
“Sepertinya kita harus mulai menolak keberadaan bandar sabu di lingkungan kita,” kata seorang warga kepada perangkat RT.
Hingga berita ini diterbitkan, Bataminfo masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak Kepolisian terkait informasi tersebut, termasuk mengenai dugaan jaringan peredaran sabu yang disebut-sebut dikendalikan oleh pria beralias Kunyet.
Izazat karunia .












