GARUT,Jejak-kasusnews.web.id – 18 Juli 2026 – Sejumlah petani padi di Kabupaten Garut mengeluhkan serangan hama tikus yang semakin parah dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi. Serangan dilaporkan terjadi di kawasan persawahan Blok Pasanggrahan, Desa Karangsari, Kecamatan Pakenjeng, serta Blok Sodong Kamal, Desa Jagabaya, Kecamatan Mekarmukti.
Menurut para petani, tikus menyerang tanaman padi sejak masa pertumbuhan hingga menjelang panen. Akibatnya, banyak tanaman mengalami kerusakan, batang padi putus, pertumbuhan tidak normal, bahkan gagal membentuk bulir gabah sehingga hasil panen diperkirakan menurun drastis.
Tikus merupakan salah satu hama utama tanaman padi yang mampu menyerang seluruh fase pertumbuhan. Kerusakan paling berat umumnya terjadi pada fase generatif karena tanaman tidak lagi mampu membentuk anakan baru. Hama ini biasanya aktif mencari makan pada malam hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi di lubang-lubang sekitar areal persawahan.
Para petani mengaku telah melakukan berbagai upaya pengendalian sejak awal musim tanam. Selain menggunakan pestisida, mereka juga menerapkan cara tradisional, seperti menaburkan campuran kotoran kambing dan bekatul untuk mengusir tikus. Namun, berbagai upaya tersebut dinilai belum mampu menekan populasi hama yang terus meningkat.
“Serangan tikus tahun ini sangat parah. Tanaman yang baru tumbuh maupun yang sudah mulai berbuah sama-sama diserang. Banyak batang padi yang putus sehingga tidak bisa berkembang dan menghasilkan gabah. Kalau kondisi ini terus terjadi, kami terancam gagal panen dan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah,” ungkap salah seorang petani.
Petani juga menilai kondisi cuaca yang tidak menentu, pola tanam yang tidak serempak, serta kondisi sawah yang terus tergenang air menjadi faktor yang mempercepat berkembangnya populasi tikus.
Di sejumlah lahan, terlihat perbedaan mencolok antara tanaman di pinggir sawah dan bagian tengah. Padi di bagian tepi masih memiliki bulir gabah, sedangkan tanaman di bagian tengah banyak yang pendek, menguning, dan tidak menghasilkan bulir akibat serangan tikus.
Para petani berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait segera mengambil langkah nyata untuk mengendalikan ledakan populasi hama tikus. Mereka meminta adanya program pemberantasan hama secara terpadu, pendampingan kepada petani, serta bantuan bagi petani yang mengalami kerugian agar dapat kembali melakukan usaha tani pada musim tanam berikutnya.
Petani berharap penanganan tidak hanya dilakukan secara sementara, melainkan melalui program berkelanjutan yang melibatkan pemerintah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani agar serangan hama tikus tidak terus berulang dan mengancam ketahanan pangan di wilayah Garut.
Hendra












