Demo, NTB  

Aksi Jilid IV LSM Gempar NTB Berakhir Ricuh, Pimpinan BRI Sumbawa Kembali Absen

Sumbawa, Jejak-kasus.web.id – Gelombang protes terhadap pelayanan dan transparansi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Sumbawa kembali memanas. Demonstrasi Jilid IV yang digelar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) GEMPAR NTB di depan kantor BRI Cabang Sumbawa pada, Jumat (23/10/2026) berakhir ricuh.

​Dari pantauan media di lokasi aksi, ketegangan dipicu oleh perselisihan antara massa aksi dan petugas keamanan (security) bank. Situasi kian memanas lantaran massa belum mendapatkan penjelasan konkret atas tuntutan mereka, sementara Pimpinan Cabang (Pinca) BRI Sumbawa, Mulkan, belum menemui para pengunjuk rasa.

​Aksi demonstrasi yang digelar secara beruntun ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan penyaluran KUR yang disuarakan GEMPAR NTB masih menyisakan polemik. Adapun tuntutan utama yang diusung massa aksi mencakup:

​Penolakan pengajuan kredit sejumlah nasabah.

​Transparansi mekanisme penyaluran KUR.
​Dugaan tumpang tindih pembiayaan.

​Kejelasan status pelunasan kredit 79 nasabah yang disinyalir belum tercatat dalam sistem perbankan.

​Ketua LSM GEMPAR NTB, Bung Rudini, S.P., M.Si., dalam orasinya mempertanyakan keterbukaan informasi mengenai penyaluran KUR bernilai lebih dari Rp2 miliar. Selain itu, ia menyoroti dugaan tunggakan nasabah di Desa Orong Telu, Kecamatan Orong Telu, yang disebut mencapai Rp2,1 miliar dengan realisasi pelunasan baru sekitar Rp30 juta.

​”Jangan hanya dijawab secara normatif. Mari kita turun bersama ke lapangan, periksa kondisi nasabah, dan buktikan apakah mereka memang memenuhi persyaratan atau tidak,” tegas Rudini.

​Atas dasar itu, GEMPAR NTB mendesak adanya pemeriksaan lapangan, pencocokan dokumen, serta kejelasan prosedur penilaian kredit secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

​Kekecewaan massa berakar dari audiensi pada, Rabu (21/10/2026), saat Pinca BRI Sumbawa sempat menerima perwakilan aksi di ruang kerjanya. Menurut salah satu peserta aksi, Yusril, pertemuan tersebut tidak menghasilkan jawaban substantif atas poin-poin yang dipertanyakan.

​”Memang kami sempat diterima oleh Pimpinan Cabang BRI di ruangannya. Namun, bukannya solusi yang diberikan, beliau malah bercerita tentang sejarah berdirinya Bank BRI. Penjelasannya seperti kuliah subuh, tidak jelas arahnya ke mana,” ungkap Yusril.

​Lantaran merasa tidak mendapatkan kejelasan mendasar, perwakilan massa aksi memilih melakukan walkout sebelum audiensi berakhir.

​”Kami keluar meninggalkan ruangan tanpa permisi. Jika Pimpinan Cabang BRI mengabaikan persoalan ini, jangan salahkan kami jika aksi akan terus berlanjut berjilid-jilid,” tambah Yusril.

​Insiden kericuhan ini kian meningkatkan tekanan publik bagi penyelesaian polemik antara massa aksi dan manajemen BRI Cabang Sumbawa.

​Kendati demikian, penyelesaian isu teknis perbankan, seperti verifikasi status pelunasan 79 nasabah maupun evaluasi penolakan KUR, tetap memerlukan proses audit internal, pencocokan bukti pembayaran, serta verifikasi data administrasi dengan tetap mematuhi prinsip kerahasiaan bank sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

​Masyarakat kini menunggu langkah konkret manajemen BRI Cabang Sumbawa dalam membuka ruang dialog yang substantif dan menyampaikan klarifikasi secara transparan.

​Hingga berita ini dipublish, pihak manajemen maupun Pimpinan Cabang BRI Sumbawa belum memberikan tanggapan resmi atau klarifikasi terkait seluruh poin tuntutan yang disampaikan oleh pengunjuk rasa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *